Pembangunan Jalan Bomang (Bojonggede-Kemang), merupakan salah satu proyek infrastruktur paling ambisius dan strategis yang tengah digarap oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Proyek ini tidak hanya dirancang sebagai sarana transportasi biasa, melainkan sebagai “urat nadi” baru yang diharapkan mampu memecah kebuntuan mobilitas di wilayah utara Bogor yang selama ini terbebani oleh kepadatan lalu lintas yang kronis.
Secara visi, Jalan Bomang diproyeksikan untuk menghubungkan dua poros ekonomi utama di Kabupaten Bogor, yaitu poros jalan nasional di wilayah Kemang (Parung) dengan pusat pemerintahan serta akses transportasi berbasis rel di wilayah Bojonggede dan Cibinong. Dengan total rencana panjang mencapai sekitar 8,5 kilometer dan lebar jalan yang mencapai 60 meter di beberapa titik, proyek ini memiliki skala yang menyerupai jalan protokol di kota-kota besar.
Pemerintah merancang jalan ini dengan konsep jalur ganda yang dilengkapi jalur lambat dan jalur cepat guna memisahkan arus kendaraan jarak jauh dengan aktivitas lokal penduduk di sekitarnya.
Pembangunan fisik jalan ini dilakukan secara bertahap melalui mekanisme anggaran tahun jamak. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menuntaskan penyambungan badan jalan dari arah Kemang menuju Tajurhalang yang sebagian besar sudah terlihat bentuk fisiknya.
Namun, tantangan terbesar muncul pada titik pertemuan di wilayah Bojonggede. Di lokasi tersebut, pemerintah perlu membangun flyover yang melintasi jalur kereta api Commuter Line Jakarta-Bogor.
Pembangunan struktur flyover ini memerlukan biaya yang sangat besar dan teknologi konstruksi yang mumpuni, sehingga menjadi titik krusial yang menentukan kapan seluruh ruas jalan ini dapat dioperasikan secara penuh.
Dari sisi pendanaan, Pemerintah Kabupaten Bogor terus berupaya melakukan lobi kepada Pemerintah Pusat agar Jalan Bomang dapat ditingkatkan statusnya menjadi jalan nasional.
Strategi ini diambil karena besarnya beban anggaran yang dibutuhkan untuk penyelesaian akhir, termasuk pembebasan sisa lahan dan pembangunan flyover tadi.
Jika status jalan ini berubah menjadi jalan nasional, maka pemeliharaan dan kelanjutan pembangunannya akan mendapat sokongan dari APBN melalui Kementerian PUPR, yang tentu akan mempercepat realisasi proyek yang sudah berjalan selama bertahun-tahun ini.
Dampak ekonomi yang diharapkan dari rampungnya Jalan Bomang sangatlah luas. Keberadaan jalan ini diprediksi akan memicu pertumbuhan kawasan komersial baru di sepanjang jalur yang dilaluinya, mulai dari sektor properti, retail, hingga jasa logistik.
Selain itu, efisiensi waktu tempuh akan meningkat drastis, warga yang ingin menuju pusat pemerintahan di Cibinong dari arah Parung tidak lagi harus memutar melewati Kota Bogor atau terjebak dalam kemacetan sempit di jalan-jalan desa.
Secara makro, Jalan Bomang juga akan terintegrasi dengan jaringan jalan tol, termasuk rencana koneksi dengan Tol Depok-Antasari (Desari) dan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), yang akan semakin memperkuat posisi Kabupaten Bogor dalam konstelasi megapolitan Jabodetabek.
Ke depannya, Pemerintah Kabupaten Bogor juga melihat potensi pengembangan kawasan berorientasi transit di ujung jalan ini.
Dengan integrasi yang baik antara akses jalan raya yang lebar dan moda transportasi massal seperti kereta api di Bojonggede, kawasan ini berpeluang menjadi pusat pertumbuhan baru yang mandiri.
Jalan Bomang bukan sekadar proyek beton dan aspal, melainkan sebuah strategi penataan ruang jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bogor Utara serta pemerataan pembangunan infrastruktur di luar pusat kota.
Visi dan Latar Belakang Proyek
Jalan Bomang dirancang untuk menghubungkan dua poros utama di Kabupaten Bogor: Jalan Raya Bogor (Parung) dan Jalan Raya Jakarta-Bogor (Cibinong).
Selama puluhan tahun, konektivitas timur-barat di wilayah utara Bogor sangat terbatas, memaksa pengendara melewati jalan-jalan desa yang sempit atau memutar jauh ke arah Kota Bogor. Jalan Bomang hadir sebagai solusi jalur arteri primer dengan lebar yang cukup ambisius, mencapai sekitar 60 meter di beberapa titik.
Detail Teknis dan Jalur
Secara administratif, jalan ini membentang sepanjang kurang lebih 8,5 kilometer. Rutenya melewati beberapa desa di Kecamatan Bojonggede, Tajurhalang, hingga berakhir di Kemang.
Komponen Utama Pembangunan:
- Jalur Utama: Terdiri dari dua jalur cepat dan dua jalur lambat (dalam rencana akhir).
- Jembatan Ikonik: Pembangunan jembatan besar yang melintasi jalur rel Commuter Line dan sungai di wilayah Tajurhalang.
- Konektivitas Tol: Rencananya, Jalan Bomang akan terintegrasi dengan gerbang Tol Depok-Antasari (Desari) Seksi III dan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR).
Status Pembangunan dan Tantangan
Meskipun pembebasan lahan sudah dilakukan sejak lama, pembangunan fisik dilakukan secara bertahap (multi-years).
| Aspek | Status Saat Ini |
|---|---|
| Lahan | Sebagian besar sudah bebas, namun masih ada titik krusial di ujung Bojonggede. |
| Pengaspalan | Jalur dari arah Kemang hingga Tajurhalang sebagian besar sudah terhubung secara fisik (beton/aspal). |
| Kendala Utama | Kurangnya anggaran untuk penyelesaian flyover di atas perlintasan kereta api Bojonggede. |
Pemerintah Kabupaten Bogor saat ini tengah melobi Pemerintah Pusat (Kementerian PUPR) agar status Jalan Bomang ditingkatkan menjadi Jalan Nasional. Tujuannya agar pendanaan penyelesaian jalan yang menelan biaya miliaran rupiah ini bisa dibantu oleh APBN, bukan hanya mengandalkan APBD kabupaten yang terbatas.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Penyelesaian Jalan Bomang diprediksi akan mengubah wajah Bogor Utara secara signifikan.
- Sentra Ekonomi Baru
Munculnya ruko, perumahan, dan area komersial di sepanjang jalur Bomang. - Efisiensi Waktu
Memangkas waktu tempuh dari Kemang ke Cibinong (Pusat Pemerintahan Kabupaten Bogor) dari 1 jam menjadi hanya 15-20 menit. - Pengurangan Kemacetan
Mengurangi beban kendaraan di Jalan Raya Parung dan kepadatan di pusat Kota Bogor.
Kehadiran Jalan Bomang juga diharapkan menjadi “penyelamat” bagi warga Bojonggede yang selama ini terjebak macet kronis di area Stasiun Bojonggede.
Rencana Masa Depan: Integrasi Intermoda
Pemerintah berencana menjadikan kawasan sekitar Jalan Bomang sebagai kawasan berorientasi transit (TOD). Dengan adanya rencana pembangunan Terminal Tipe A di sekitar Bojonggede, Jalan Bomang akan menjadi urat nadi utama bagi transportasi publik yang menghubungkan Bogor dengan wilayah Tangerang Selatan dan Jakarta.
Pembangunan ini memang memakan waktu yang cukup lama, namun jika sudah rampung sepenuhnya, Jalan Bomang akan menjadi salah satu jalan terlebar dan termegah di tingkat kabupaten.
Update Anggaran Terbaru 2026
Sesuai dengan rencana kerja Pemerintah Kabupaten Bogor dan sinkronisasi dengan Kementerian PUPR untuk tahun anggaran 2025-2026, berikut adalah pembaruan spesifik mengenai anggaran dan target penyelesaian Jalan Bomang.
Transisi ke Dana Pusat
Tantangan terbesar Jalan Bomang selama ini adalah biaya pembangunan jembatan layang (flyover) di atas perlintasan kereta api Bojonggede yang diperkirakan menelan biaya lebih dari Rp 300 miliar.
- Status Jalan Nasional
Pemerintah Kabupaten Bogor telah mengajukan peningkatan status jalan ini menjadi Jalan Nasional. Per tahun 2026, fokus utama adalah mendapatkan intervensi melalui Inpres Jalan Daerah (IJD) dari Pemerintah Pusat untuk mendanai penyelesaian struktur jembatan dan jalur lambat. - Alokasi APBD
Pemkab Bogor tetap menganggarkan biaya pemeliharaan dan penerangan jalan umum (PJU) serta pembebasan lahan sisa di titik pertemuan menuju arah Tegar Beriman.
Jadwal Pembukaan dan Fungsionalitas Seksi
Pemerintah menargetkan fungsionalitas jalan dilakukan secara bertahap.
- Seksi Kemang – Tajurhalang
Saat ini sudah dapat dilalui kendaraan secara fungsional. Fokus tahun ini adalah penyempurnaan marka jalan dan drainase agar tidak terjadi genangan saat hujan besar. - Seksi Tajurhalang – Bojonggede (Susukan)
Target penyelesaian fisik terus dikejar untuk menyambungkan aspal yang terputus. Namun, akses penuh menuju Jalan Tegar Beriman masih sangat bergantung pada pembangunan flyover Bojonggede. - Target Operasional Penuh
Jika pendanaan dari pusat melalui Kementerian PUPR turun sesuai rencana, target operasional penuh (termasuk jembatan layang) diproyeksikan baru akan terealisasi pada akhir 2026 atau awal 2027.
Kendala Lapangan yang Masih Dihadapi
- Penerangan Jalan
Masih banyak titik yang minim cahaya di malam hari, sehingga Pemkab Bogor sedang memprioritaskan pemasangan lampu jalan di sepanjang jalur yang sudah teraspal untuk keamanan warga. - Akses Penghubung (Missing Link)
Masih ada hambatan kecil terkait pembebasan lahan di area padat penduduk dekat Stasiun Bojonggede yang menjadi kunci utama penyambungan ke pusat perkantoran Pemda di Cibinong.

